Advanced Search
Hits
46838
Tanggal Dimuat: 2009/05/06
Ringkasan Pertanyaan
Apakah seluruh sabda dan ucapan Nabi Saw merupakan wahyu atau tidak?
Pertanyaan
Apakah seluruh sabda dan ucapan Nabi Saw merupakan wahyu atau tidak? Dengan kata lain, apakah seluruh ucapan yang terlontar dari lisan Nabi Saw dan kemudian segala perbuatan yang dilakukan oleh Nabi Saw merupakan ajaran dan pelajaran Ilahi yang disampaikan kepadanya melalui wahyu, atau terdapat ucapan dan sabda Nabi Saw yang bukan wahyu atau ucapan dan sabda yang berkaitan dengan agama dan hukum-hukum harus dipisahkan dengan ucapan yang bertalian dengan obrolan keseharian?
Jawaban Global

Terdapat ragam pendapat para pemikir otoritatif terkait masalah ini. Sebagian berpandangan, dengan memperhatikan kemutlakan ayat 3 dan 4 surah al-Najm,[i] bahwa seluruh ucapan, perbuatan dan perilaku Nabi Saw adalah wahyu. Sebagian lainnya berkeyakinan bahwa ayat 4 surah al-Najm terkait dengan al-Qur’an dan ayat-ayat yang diwahyukan kepada Nabi Saw. Meski Sunnah Nabi Saw merupakan hujjah, ucapan, tindakan dan diamnya tidak bersumber dari hawa nafsu.

Nampaknya yang dapat dikatakan dalam masalah ini secara definitif adalah bahwa tidak satu pun perbuatan dan sirah Nabi Saw yang dilakukan tanpa izin wahyu, sebagaimana ucapan beliau demikan juga adanya. Dan obrolan keseharian dan adat kehidupan Nabi Saw tidak berasal dari hawa nafsu, pada hakikatnya mustahil terjadi perbuatan dosa pada pribadi Rasulullah Saw dalam hal ini.



[i]. “Dan dia tidak berbicara menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (Qs. Al-Najm [53]:3-4)

Jawaban Detil

Tanpa syak, para nabi Allah memiliki hubungan khusus dengan Allah Swt dan mereka menerima pelbagai hukum, aturan, ajaran Ilahi melalui hubungan ini yang kemudian disampaikan kepada masyarakat.

Realitas dan kuiditas hubungan ini merupakan perkara yang sangat pelik dan manusia tidak mampu memahami dan mencerap hubungan dengan baik. Namun hal itu tidak bermakna kejahilan mutlak manusia terhadap permasalahan ini. Dengan kata lain, masalah “wahyu” bukan merupakan sebuah permasalahan yang tidak dapat dipahami dan dikenali hakikatnya oleh manusia sehingga harus ditinggalkan dan dibiarkan begitu saja. Namun ia dapat dipahami sesuai dengan kadar dan keluasan akal, pemahaman, pencerapan, manusia yang dapat menggali wahyu dan firman Ilahi ini.

 

Wahyu secara leksikal

Wahyu merupakan prinsip dan kaidah yang berguna untuk menyampaikan “ilmu” dan sebagainya. Tipologi wahyu adalah sebuah isyarat cepat yang bertautan dengan tulisan dan risalah, terkadang merupakan deklarasi terhadap rumusan dan formula, terkadang dalam bentuk tunggal dan terlepas dari susunan, isyarah terhadap sebagian anggota badan, terkadang bermakna ilham dan ucapan tersembunyi. Karena itu, tersembunyi, cepat dan misterius tergolong sebagai rukun-rukun asli wahyu.[1]

 

Hakikat wahyu

Wahyu pada umumnya sepadan dengan ilmu, pemahaman dan pencerapan. Tidak setimpal dengan perbuatan dan pergerakan, kendati manusia tatkala melakukan perbuatan mencari bantuan dari percikan pemikiran dan pandangan. Ilmu dan pemahaman merupakan bentuk tipikal eksistensi yang jauh dan bebas dari kuiditas.

Dengan kata lain, wahyu merupakan pahaman yang disaripatikan dari “keberadaan.” Dengan demikian, wahyu tidak memiliki kuiditas dan tidak dapat dimaknakan melalui genus, differentia, definisi, gambaran (rasm). Karena itu, wahyu jauh dan terbebas dari sepuluh kategori kuiditas yang umum dikenal orang. Pahaman wahyu – seperti makna keberadaan – memiliki instanta luaran (mishdaq) dimana contoh luaran ini memiliki tingkatan yang beragam dan berbeda.[2]

Karena itu, pelbagai definisi yang dibeberkan bagi wahyu merupakan definisi syarh al-ism (alih-bahasa semata) bukan definisi hakiki. Di samping itu, wahyu bukan merupakan hubungan biasa sehingga dapat dicerap dan dipahami dengan mudah oleh siapa saja.

 

Definisi wahyu

Allamah Thabathabai dalam mendefinisikan wahyu berkata, “wahyu merupakan pencerapan dan pemahaman khusus dalam batin para nabi dimana hal ini tidak mungkin diperoleh oleh siapa saja kecuali mereka yang mendapatkan inâyah (perhatian khusus) Allah Swt.[3]

Allamah Thabathabai pada kesempatan lain menulis, “Wahyu adalah perkara ekstraordinari (luarbiasa) yang berasal dari pencerapan-pencerapan batin dan pemahaman simbolik yang tertutup dari indera-indera lahir.”[4]

Dalam menjawab pertanyaan yang mengemuka maka harus dikatakan bahwa:

Para pemikir dan ulama Islam melontarkan pelbagai pandangan beragam dan berbeda dengan memanfaatkan ayat-ayat dan riwayat-riwayat:

Abdurrazzaq Lahiji terkait masalah ini berkata, “Apabila ada orang yang menduga bahwa Nabi Saw pada sebuah perkara beramal berdasarkan pikiranya sendiri dan tidak menantikan wahyu maka dari sudut mana pun orang ini tidak tahu dan jahil terhadap tujuan kenabian dan hakikat nabi. Dan orang sedemikian di hadapan orang-orang berakal telah keluar dari wilayah agama, khususnya karena hal ini bertentangan dengan nash al-Qur’an “wama yanthiqu anilhawa, in huwa wahyu yuha” dan menspesifikasi (takhsis) masalah ini terhadap sebagian masalah lainnya sejatinya merupakan perbuatan yang tidak dapat diterima. Seluruh urusan yang bertalian dengan agama memerlukan izin Ilahi dan wahyu Rabbani, nah tatkala Nabi tidak berbuat berdasarkan pendapatnya sendiri maka bagaimana mungkin orang lain dapat berbuat sebaliknya.” [5]

Dalam tafsir Nemune[6] ditulis demikian bahwa firman Allah Swt dalam al-Qur’an “in wahyu yuha” tidak hanya berkaitan dengan ayat-ayat al-Qur’an, melainkan dengan indikasi ayat-ayat sebelumnya Sunnah Nabi Saw juga termasuk sebagai bagian dari “yang diwahyukan” ini. Dimana bukan hanya ucapan Nabi Saw namun perbuatan serta perilaku Nabi Saw adalah sesuai dengan wahyu Ilahi. Lantaran pada ayat 3 dan 4 surah al-Najm secara tegas dijelaskan bahwa “Dia tidak berkata-kata mengikuti hawa nafsunya, segala yang ia ucapakan adalah wahyu.”

Allamah Thabathabai dalam penafsiran ayat “Wamâ yanthiq ‘anil hawa” berkata, “maa yanthiqu” bercorak mutlak, dan tuntutan kemutlakan ini adalah bahwa hawa nafsu telah dinafikan dari seluruh ucapan Nabi Saw. Namun terkait dengan ayat-ayat yang menyebutkan “Shâhibukum[7] ini adalah dialamatkan untuk kaum musyirikin[8] karena indikasi kedudukan yang terdapat pada ayat ini harus dikatakan bahwa apa yang diserukan kepadanya untuk kaum musyrikin dan apa yang dibacakan dari ayat-ayat al-Qur’an, ucapan-ucapannya tidak bersumber dari hawa nafsu, melainkan apa pun yang dikatakannya adalah wahyu yang diturunkan Allah Swt kepadanya.”[9]

Artinya ayat ini menetapkan bahwa seluruh hal-hal religius[10] yang dikatakannya dalam masalah-masalah bimbingan, pandangan dunia dan petunjuk bukan hal-hal partikular duniawi adalah wahyu.[11] Namun kemungkinan seperti ini tertolak dimana ucapan-ucapan biasa, perintah dan larangan Nabi Saw terkait urusan pribadi, keluarga misalnya Nabi Saw bertutur kata kepada istrinya, berikan wadah itu kepadaku, dan sebagainya berasal dari hawa nafsu.[12] Nabi Saw dalam ucapan-ucapan semacam ini maksum dan tidak melakukan kekeliruan dan kesalahan.[13] Karena itu ucapan dan perbuatan[14] Nabi Saw dalam kondisi-kondisi semacam ini, boleh dan tidak bertentangan dengan keridhaan Ilahi. Karena apabila perbuatan-perbuatan ini bermasalah maka hal tersebut tentu tidak akan dilakukan oleh Nabi Saw.[]

 

Untuk telaah lebih jauh silahkan Anda merujuk pada:

Silsilah Darshâ-ye Khârij Ilm Ushul, kitâb-e awwal, daftar-e Panjum, Mabâdi-ye Shudur-e Sunnat, Martaba wa Dâman-ye Ishmat, hal. 34-67, Ustad Mahdi Hadawi Tehrani.



[1]. Raghib Isfahani, al-Mufradat Alfaz al-Qur’an, klausul wahy.

[2]. Untuk referensi lebih jauh, silahkan Anda lihat: Wahy wa Nubuwat dar Qur’an, Jawadi Amuli. Mabani Kalami Ijtihad dar Bardasyt az Qur’an Karim, Hadawi Tehrani, hal. 77.

[3]. Muhammad Husain Thabathabai, al-Mizan (terjemahan Persia), jil. 2, hal. 159.

[4]. Ibid, hal. 160. Untuk referensi lebih jeluk silahkan Anda lihat, Hadawi Tehrani, Mabani Kalam-e Ijtihad, hal. 76-78. Abdulhussein Khusrupanah, Qalamruye Din, hal. 117-130. Dan indeks: Wahyu dan bagaimana ia diturunkan, pertanyaan 88.  

[5]. Abdurrazzaq Lahiji, Gauhar Murâd, hal. 461.

[6]. Tafsir Nemune, jil. 22, hal. 481.  

[7]. Qs. Al-Najm [53]:2

[8]. Kaum Musyrikin beranggapan bahwa seruan Nabi Saw yang dibacakan untuk mereka adalah dusta dan khurafat.

[9]. Thabathabai, al-Mizan (terjemahan Persia), jil. 19, hal. 42. Sayid Muhammad Husain Husaini Tehrani, Mehr Taban, hal. 212-213.

[10]. Satu unsur religius adalah unsur yang memiliki peran dalam kebahagiaan hakiki manusia  

[11] . Jawadi Amuli, Tafsir Maudhu’i Qur’an, Sireh-ye Rasul Akram dar Qur’an, jil. 8, hal. 32.

[12]. Harus diperhatikan bahwa ucapan kita lebih tinggi dari ucapan ini dimana sebagian orang berkata tanpa ragu bahwa keberadaan Nabi Saw di samping tipologi risalah dan wahyu yang diturunkannya kepadanya, beliau berasal dari golongan terkemuka dan berpengalaman pada masanya. Karena itu, beliau memiliki dua jenis ucapan dan sabda: Pertama, ucapan dan sabda yang merupakan wahyu seperti ayat-ayat al-Qur’an dan hadis-hadis Qudsi. Kedua, ucapan-ucapan yang sarat hikmah dan rasional yang memancar dari pribadi unggul Nabi Saw.

[13]. Kendati religiusitas dan keniscayaan di antara keduanya tidak dapat ditetapkan. Artinya disebutkan sebagai maksum dan sekali-kali tidak pernah melakukan kelalaian, kesalahan, lupa dan maksiat, baik dalam perbuatan atau pun ucapan terkait dengan urusan agama atau apa yang dikatakan dan dikerjakan, tidak ada sangkut pautnya dengan agama. Karena itu, apabila seorang maksum menjelaskan sebuah hakikat yang tidak memiliki unsur agama – misalnya menyampaikan sebuah masalah ilmiah – tentu saja ucapannya sesuai dengan realitas. Sebagaimana apabila seorang maksum menjelaskan masalah syariat dan agama, maka sekali-kali tidak terdapat kesalahan di dalamnya. Ta’ammulât dar Ilm-e Ushul Fiqh, kitâb Awwal, daftar-e Panjum, Mabâdi-ye Shudur-e Sunnat, Martabe-ye Dâmaneye Ishmat, hal. 35.

[14]. Dari ayat “wama yanthiqu ‘anil hawa” ditegaskan bahwa perbuatan dan sirah Nabi Saw di samping ucapan beliau adalah senantiasa sesuai dengan wahyu. Dan apabila dianggap makna yang meliputi ini tidak dapat kita jadikan media inferensi (istinbath) maka  ayat lain seperti ayat 50 surah al-An’am dan ayat-ayat lainnya, dapat diperoleh makna yang sama. Jawadi Amuli, Tafsir Mau’dhui al-Qur’ân, Sireh-ye Rasul Akrâm Saw dar Qur’ân, jil. 8, hal. 33.

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    260419 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    245950 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    229816 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    214616 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    175972 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    171336 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    167722 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    157781 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    140595 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    133794 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...