Advanced Search
Hits
12672
Tanggal Dimuat: 2010/12/19
Ringkasan Pertanyaan
Mengapa Imam Hasan As tidak melakukan perlawanan seperti saudaranya?
Pertanyaan
Mengapa Imam Hasan As tidak bangkit melawan Bani Umayyah sementara beliau mampu melakukan hal itu? Dan satu-satunya imam yang bangkit melakukan perlawanan adalah Imam Husain As. Apa saja yang menjadi dalil kebangkitan Imam Husain As melawan Bani Umayyah?
Jawaban Global

Setiap kejadian sejarah harus dikaji dan dijelajahi dengan memperhatikan pelbagai kondisi dan situasi politik yang berkembang pada zamannya.

Tindakan pertama Imam Hasan As setelah naiknya ke tampuk pemerintahan adalah menyiapkan pasukan untuk menghadapi eskalasi pasukan Muawiyah.  Namun sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi masyarakat Imam memilih berdamai dan menghindar melanjutkan perang setelah menimbang seluruh sisi persoalan yang terdapat pada dunia Islam. Di samping itu dengan memperhatikan kemampuan dan kekuataan militer pemerintahannya apabila angkat senjata berhadapan dengan Muawiyah maka diputuskan untuk berdamai dan tidak melanjutkan perang lantaran ini tidak memberikan maslahat bagi Islam dan kaum Muslimin.

Sejarah menunjukkan bahwa pertama, Imam Hasan As,  lantaran tidak memiliki penolong dan panglima-pangliman yang tulus, beliau tidak memiliki peluang untuk meraih kemenangan militer melawan Muawiyah dan para antek-anteknya. Kedua, dalam kondisi seperti ini hasil perang dengan Muawiyah tidak akan memberikan keuntungan bagi dunia Islam. Ketiga, peperangan Imam Hasan melawan Muawiyah  kemungkinan hasilnya adalah terbunuhnya Imam Hasan di tangan Muawiyah dan hal itu bermakna kekalahan sentral kekhalifaan kaum Muslimin.

Adapun situasi dan kondisi yang berkembang pada masa Imam Husain As sama sekali berbeda dengan situasi dan kondisi yang dihadapi Imam Hasan As. Lantaran orang-orang pada masa ini sudah muak dengan kezaliman dan kejahatan Bani Umayyah. Mereka ingin berbaiat kepada Imam Husain As dan meminta beliau untuk datang ke Kufah untuk membentuk pemerintahan. Demikian juga,  orang yang berhadapan dengan Imam Husain As adalah Yazid yang sama sekali tidak mengindahkan hukum-hukum dan aturan-aturan Islam dan baiat Imam Husain As kepada Yazid bermakna menerima secara resmi kezaliman, kejahatan, kemungkaran dan kehancuran Islam.

Karena itu, perdamaian (sulh) Imam Hasan dan kebangkitan (qiyâm) Imam Husain As adalah dua peristiwa dan kejadian yang terjadi dalam sejarah. Keduanya harus dikaji dan dijelajahi dengan memperhatikan situasi dan kondisi sosial-politik yang berkembang pada masa keduanya. Apabila tidak demikian dalam pandangan kami keduanya adalah imam dan keduanya terjaga dari segala jenis kesalahan dan kekeliruan. Apabila sekiranya Imam Husain yang menjadi pengganti dan khalifah Imam Ali As menduduki jabatan imamah maka beliau akan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh saudaranya Imam Hasan As.

Jawaban Detil

Pada hakikatnya Islam adalah agama rahmat, perdamaian dan kedamaian. Sejarah Islam dan peri kehidupan Rasulullah Saw dan para Imam Maksum As adalah penjelas hal ini. Tentu terkait dengan hal-hal yang mendesak dan memaksa Rasulullah Saw atau para Imam Maksum untuk berperang dan perang itu pun lebih bercorak defensif (membela diri) ketimbang ofensif (memulai peperangan) harus dikecualikan dalam hal ini.

Demikian juga Imam Hasan As tatkala naik tampuk kekhalifahan, beliau berhadapan dengan penentangan dan eskalasi pasukan Muawiyah (yang ingin memulai peperangan). Karena itu, Imam Hasan menyiapkan pasukan untuk membela dan melawan pasukan Muawiyah. Namun selanjutnya, dengan memperhatikan kondisi yang berkembang, Imam Hasan terpaksa memilih berdamai dan membela Islam dengan cara yang lain.[1]

Adapun terkait dengan sebab perdamaian (sulh) Imam Hasan As dan kebangkitan (qiyâm) Imam Husain As harus dikatakan bahwa keduanya adalah peristiwa sejarah yang merupakan akibat dari pelbagai situasi dan kondisi sosial-politik yang berkembang pada masanya. Dua peristiwa ini harus dikaji dan ditelusuri dengan memperhatikan tuntutan pelbagai situasi dan kondisi yang terdapat pada masa Imam Hasan As dan Imam Husain As.

Dalam pandangan kami (Syiah) Imam Hasan As dan Imam Husain As keduanya adalah imam dan terjaga (maksum) dari kesalahan dan kekeliruan. Rahasia mengapa Imam Hasan memilih berdamai (sulh) dan mengapa Imam Husain As memilih angkat senjata (qiyam) terletak pada perbedaan situasi sosial dan politik yang berkembang masing-masing pada zamannya yang akan disinggung sebagian sebagaimana berikut ini:

1.     Apa yang pasti dalam sejarahadalah bahwa Muawiyah merupakan seorang licin dan licik. Ia secara lahir mengamalkan hukum-hukum Islam hingga batasan tertentu. Berbeda dengan Yazid yang tidak hanya memiliki permusuhan dengan Islam pada pemerintahannya namun juga menampakkan permusuhan ini secara telanjang. Tidak satu pun dari amalan-amalan dan nilai-nilai suci Islam yang diamalkan dan dijunjung tinggi.[2] Atas dasar inilah, Imam Husain As, pada masa pemerintahan Muawiyah, menerima surat-surat dari penduduk Irak untuk angkat senjata dan bangkit melawan Muawiyah. Namun Imam Husain tidak angkat senjata dan bangkit mengusung perlawanan. Imam Husain As bersabda, “Hari ini bukanlah hari untuk mengusung perlawanan. Semoga Allah Swt merahmati kalian. Sepanjang Muawiyah hidup janganlah kalian bertindak dan tetaplah di rumah-rumah kalian.”[3]

2.     Bermunculannya kekuatan-kekuatan Khawarij dan tiadanya penolong tulus serta panglima-panglima yang rela berkorban bagi Imam Hasan As.[4] Dan juga, karena kelemahan internal yang telah membuat kemampuan dan kekuatan militer Imam Hasan menjadi lemah. Di samping itu, orang-orang enggan dan tidak suka untuk terlibat dalam peperangan melawan Muawiyah.[5] Imam Hasan As, terkait dengan sebab-sebab perdamaian dengan Muawiyah, bersabda, “Melihat banyak orang memilih untuk berdamai dan enggan untuk berperang (karena itu) aku tidak ingin mendesakkan sesuatu yang kalian tidak sukai.” Oleh itu, untuk menjaga jiwa – sebagian kecil – Syiahku, aku memilih berdamai.”[6]

3.     Imam Hasan As adalah khalifah kaum Muslimin. Peperangan Imam Hasan As dengan Muawiyah dan (kemungkinan) terbunuhnya beliau di tangan lasykar Muawiyah adalah kekalahan sentral kekhalifahan kaum Muslimin. Meminjam tuturan Muthahhari “Bahkan Imam Hasan As menghindar untuk tidak terbunuh dengan cara seperti ini guna menghindari citra bahwa seseorang yang duduk menggantikan Rasulullah Saw dan menjabat sebagai khalifah terbunuh.” [7] Dengan alasan yang sama, Imam Husain tidak rela terbunuh di Mekkah; karena dengan terbunuhnya beliau di Mekkah maka kehormatan Mekkah akan hilang. Karena itu, kondisi yang dihadapi Imam Hasan As menuntut untuk tidak berperang dan perdamaian merupakan sebuah taktik dan strategi yang penting untuk mengurus kepentingan kaum Muslimin dan penguatan fondasi-fondasi pemerintahan Islam.

 

Karena itu, kami meyakini bahwa apabila Imam Husain berada pada posisi Imam Hasan As maka pastilah beliau akan melakukan hal yang sama.

Bukti atas pandangan ini adalah bahwa pasca perdamaian Imam Hasan As sebagian orang datang menghadap Imam Husain As dan berkata bahwa kami tidak menerima perdamaian. Apakah kami harus berbaiat kepada Anda? Imam Husain As menjawab, “Tidak! Aku mengikuti apa pun yang dilakukan oleh saudaraku Hasan As.”[8]

Adapun dalil-dalil berikut ini adalah kondisi yang dihadapi oleh Imam Husain As persis berkebalikan dengan kondisi yang dihadapi oleh Imam Hasan As:

1.     Perbedaan asasi antara kondisi yang dihadapi oleh Imam Husain As pada masa Imam Hasan As yang berujung pada kebangkitan Imam Husain As adalah bahwa Yazid meminta baiat dari beliau dan baiat Imam Husain As kepada Yazid – yang sama sekali tidak mengamalkan hukum-hukum lahir Islam dan tidak menjunjung tinggi nilai-nilai Islam– bermakna menerima secara resemi kezaliman, kejahatan, kerusakan dan kemungkaran dan seterusnya. Hal ini sama saja dengan kehancuran Islam. Berbeda dengan Muawiyah yang tidak menuntut baiat dari Imam Husain dan salah satu materi surat perjanjian damai adalah tiadanya tuntutan baiat dari Muawiyah kepada Imam Hasan As.

2.     Orang-orang yang tadinya tidak ingin berperang pada masa Imam Hasan As melawan Muawiyah,[9] menyatakan muak dengan pelbagai kejahatan dan kezaliman yang dilakukan Muawiyah selama dua puluh tahun pemerintahannya. Dan Kufah yang kurang-lebihnya adalah sebuah kota menyatakan telah siap untuk membentuk pemerintahan bagi Imam Husain As dan hal ini merupakan hujjah bagi Imam Husain untuk bereaksi dan bertindak.[10]

3.     Faktor terpenting kebangkitan Imam Husain As adalah faktor amar makruf dan nahi mungkar.

 

Muawiyah selama dua puluh tahun pemerintahannya, beramal bertentangan dengan Islam, bertindak zalim dan berbuat kejahatan. Ia merubah hukum-hukum Islam, menghambur-hamburkan baitul mal, menumpahkan darah orang-orang yang tidak berdosa, tidak mematuhi surat perjanjian damai, tidak mengamalkan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. Demikian juga setelah Muawiyah adalah putranya Yazid, peminum khamar dan gemar bermain dengan anjing. Ia memperkenalkan dan mengangkat Yazid sebagai penggantinya. Hal ini telah menyebabkan Imam Husain untuk bangkit sebagai kewajibannya menunaikan amar makruf dan nahi mungkar. Sementara kondisi Muawiyah ini belum lagi terbongkar bagi masyarakat pada masa Imam Hasan As. Dan boleh jadi atas dasar ini orang-orang berkata, “Perdamaian Imam Hasan As adalah persiapan bagi kebangkitan Imam Husain As.” Artinya isi perjanjian damai yang dilampirkan oleh Imam Hasan As menjadikan jalan untuk mengecoh dan menipu bagi Muawiyah tertutup. Meski Muawiyah sebelumnya mematuhi isi perjanjian damai tersebut, namun hal ini tidak lain merupakan pendahuluan bagi terbongkarnya kedok Muawiyah bagi masyarakat Islam dan kebangkitan Imam Husain As melawan Yazid putra Muawiyah.

Sebagian isi surat perjanjian damai Imam Hasan adalah:

1.     Muawiyah beramal sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw.

2.     Urusan kekhalifaan setelah Muawiyah harus diserahkan kepada Imam Hasan As dan apabila terjadi sesuatu dan lain hal maka didelegasikan kepada Imam Husain As.

3.     Cacian dan pencitraan buruk Ali As harus dilarang pada mimbar-mimbar dan shalat-shalat.

4.     Muawiyah harus menutup mata dari baitul mal Kufah yang memiliki perbendaharaan sebanyak lima juta Dirham.

5.     Kaum Muslimin dan orang-orang Syiah harus aman dari gangguan dan kejahatan.

 

Dari isi surat perjanjian damai ini dapat disimpulkan dengan baik bahwa Imam Hasan As sekali-kali tidak berada pada tataran ingin menguatkan kekhalifaan Muawiyah, melainkan hanya untuk menjaga kemaslahatan Islam dan kaum Muslimin. Itu pun dilakukan karena sesuai dengan tuntutan kondisi sosial masyarakat Islam.

Karena itu, dengan memperhatikan pelbagai situasi dan kondisi yang berkembang di tengah masyarakat Islam pada masa Imam Hasan As dan sebagai khalifah Imam Hasan berdamai dengan Muawiyah. Karena adanya tuntutan situasi dan kondisi yang beragam dan berbeda, oleh itu, situasi dan kondisi sosial-kemasyarakatan pada masa Imam Hasan As menuntut adanya perdamaian (sulh) dan pada Imam Husain adalah kebangkitan (qiyâm). [IQuest]

 

UNtuk telaah lebih jauh silahkan lihat Sairi dar Sirah Aimmah Athar, karya Murtadha Muthahhari, hal. 51-97.



[1]. Pâsukh-e be Syubuhât-e Wâqe’e Âsyurâ, Ali Asghar Ridwani, hal. 316.

[2]. Ibid, hal. 319.

[3].  I’lâm al-Hidâyah, Imâm Husain As, Al-Majma’ al-‘Alami li Ahlilbait As, hal. 147.

[4]. Mereka berkata, “Imam As memilih empat panglima pasukan dan Muawiyah menarik keempat panglima tersebut dengan menyogok mereka.” Pâsukh-e be Syubuhât-e Wâqe’e Âsyurâ, Ali Asghar Ridwani, hal. 316.

[5]. Meletusnya tiga peperangan, Jamal, Shiffin, Nahrawan, pada masa Imam Ali As, telah menciptakan kelelehan dan frustasi untuk kembali berperang (dengan Muawiyah) di kalangan penolong Imam Hasan As.

[6]. I’lâm al-Hidâyah, Imâm Husain As,  Al-Majma’ al-‘Alami li Ahlilbait As, hal. 147.

[7]. Sairi dar Sirah Aimmah Athar As, Murthadha Muthahhari, hal. 77.

[8]. Sairi dar Sirah Aimmah Athar As, Murthadha Muthahhari, hal. 96.

[9]. Imam Hasan As pada akhir khutbah yang beliau sampaikan meminta pendapat dari masyarakat terkait dengan kelanjutan perang. Mereka berteriak dari pelbagai sisi bahwa kami ingin tetap hidup. Kalau begitu tanda tanganilah surat perjanjian damai itu. Pâsukh-e be Syubuhât-e Wâqe’e Âsyurâ, Ali Asghar Ridwani, hal. 316.

[10]. Sairi dar Sirah Aimmah Athar As, Murthadha Muthahhari, hal. 81.

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    260167 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    245846 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    229722 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    214511 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    175854 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    171229 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    167620 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    157683 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    140514 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    133690 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...