Advanced Search
Hits
11161
Tanggal Dimuat: 2012/05/13
Ringkasan Pertanyaan
Apakah hukuman kepada Bani Israel karena menyembah sapi merupakan hukuman yang bijak?
Pertanyaan
Pada ayat 54 surah al-Baqarah (2) disebutkan, “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sebagai sembahanmu). Maka bertobatlah kepada Tuhan Pencipta-mu dan sebagai hukuman (atas kebodohan kalian maka bunuhlah diri kalian dengan menancapkan paku sesama kalian). Hal itu adalah lebih baik bagimu di sisi Tuhan Pencipta-mu; maka Allah akan menerima tobatmu. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” Coba Anda perhatikan bahwa hukuman kebodohan yang disebutkan merupakan sebaik-baik hukuman kepada Bani Israel. Pertanyaan saya adalah apakah bunuh diri dengan menancapkan paku sesama mereka merupakan perbuatan manusiawi sebagaimana yang diinginkan Allah Swt atas Bani Israel?
Jawaban Global

Para ahli tafsir memberikan tiga kemungkinan terkait dengan maksud perintah Tuhan untuk membunuh yang disebutkan pada ayat ini:

Pertama: Perintah ini adalah ujian dan apabila mereka menaruh perhatian atas ujian ini maka perintah ini kemudian akan dicabut.

Kedua: Yang dimaksud dengan qatl (bunuh) pada ayat ini adalah membunuh syahwat nafsu dan was-was setan.

Ketiga: Yang dimaksud dengan qatl (bunuhlah diri kalian) adalah qatl hakiki yaitu bunuhlah diri kalian satu sama lain.

Hikmah di balik hukum ini boleh jadi dikarenakan seluruh atau salah satu dari beberapa hal berikut:

  1. Untuk menyucikan Bani Israel dari noda syirik dan kekufuran.
  2. Untuk menghindar adanya pengulangan atas dosa besar ini.
  3. Pentingnya masalah penyimpangan dari asli tauhid dan kecendrungan terhadap penyembahan berhala.

Bagaimanapun sepedih-pedihnya azab senilai dengan terbebasnya manusia dari azab neraka.

Jawaban Detil

Allah Swt berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sebagai sembahanmu). Maka bertobatlah kepada Tuhan Pencipta-mu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu di sisi Tuhan Pencipta-mu; maka Allah akan menerima tobatmu. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Baqarah [2]:54)

Para ahli tafsir memberikan beberapa kemungkinan terkait dengan apa yang menjadi maksud Allah Swt yang memerintahkan kepada Bani Israel untuk membunuh satu sama lain pada ayat ini:

  1. Perintah untuk membunuh pada ayat ini merupakan sebuah ujian seperti perintah kepada Nabi Ibrahim untuk membunuh Ismail. Sebelum membunuh Ismail, Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu.” Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Qs. Shaffat [36]:105) Dalam kisah Nabi Musa As, Allah Swt berfirman, “Maka bertobatlah kepada Tuhan Pencipta-mu dan sebagai hukuman (atas kebodohan kalian maka bunuhlah diri kalian dengan menancapkan paku sesama kalian). Hal itu adalah lebih baik bagimu di sisi Tuhan Pencipta-mu; (namun sebelum perintah Allah Swt dikerjakan secara keseluruhan Allah Swt memandang membunuh sebagian sama dengan membunuh keseluruhan, Allah Swt menerima taubat mereka.”[1]
  2. Yang dimaksud dengan qatl (bunuh) pada ayat ini adalah membunuh syahwat nafsu dan was-was setan. Makna ayat ini adalah potonglah syahwat-syahwat nafsu dan was-was setan dalam dirimu dan akuilah dengan tulus-ikhlas keesaan Ilahi.[2]
  3. Yang dimaksud dengan qatl (bunuhlah diri kalian) adalah qatl hakiki yaitu bunuhlah diri kalian satu sama lain;[3] karena terbunuh pada kehidupan dunia ini adalah lebih baik bagi kalian.

 

Orang-orang yang berkata bahwa maksud Allah Swt pada ayat ini adalah bunuh hakiki dan menyebutkan hikmah dan falsafah atas perintah bunuh ini sebagai berikut:

  1. Terbunuhnya Bani Israel akan menyebabkan penyucian Bani Israel dari kekufuran dan syirik dan menjadi media sampainya mereka pada kehidupan abadi nan sentosa.[4]
  2. Membunuh manusia meski merupakan sebuah perbuatan keji dan haram namun terkadang disebabkan oleh kemaslahatan tertentu membunuh seseorang menjadi sebuah perbuatan terpuji dan wajib. Membunuh boleh jadi berubah dari status haram menjadi wajib disebabkan oleh kemaslahatan agama dan sosial. Sehubungan dengan Bani Israel juga, karena membunuh mereka mengandung kemaslahatan untuk mencegah mengulangi perbuatan dosa besar maka perbuatan ini menjadi perbuatan baik dan kesiapan melakukan hal tersebut juga termasuk sebagai perbuatan terpuji.[5]
  3. Menyembah sapi Samirri bukanlah merupakan perbuatan sepele. Umat Bani Israel adalah umat yang telah menyaksikan sekian banyak ayat-ayat Ilahi dan mukjizat nabi besar Musa As. Hanya karena gaib kecil nabinya  begitu mudah mereka melupakan seluruh ayat-ayat dan mukjizat ini dan menepikan seluruh prinsip asasi tauhid dan ajaran Ilahi kemudian menyembah berhala. Apabila masalah ini tidak dicerabut dari pikiran mereka maka potensi timbulnya bahaya sangat besar dan setiap waktu khususnya pasca wafatnya Nabi Musa As boleh jadi seluruh ayat dan seruan Nabi Musa hilang begitu saja dan nasib ajaran Nabi Musa yang akan menjadi taruhannya. Karena itu, tindakan tegas harus dilakukan untuk mencegah terjadinya masalah ini. Tindakan tegas atas masalah ini tidak cukup dengan taubat lisan sama sekali. Karena itu, keluarlah titah tegas Allah Swt yang tiada duanya sepanjang sejarah para nabi dan perintah itu di samping seruan untuk taubat dan kembali kepada tauhid, perintah untuk mengeksekusi kelompok besar para pendosa pun dikeluarkan. Tinggi dan kuatnya tingkatan hukuman ini disebabkan karena masalah penyimpangan dari prinsip tauhid dan kecondongan kepada penyembahan berhala bukanlah masalah sepele yang tidak dapat dengan mudah manusia kembali setelah terperangkap di dalamnya itu pun setelah mereka menyaksikan seluruh mukjizat yang nyata dan anugerah Ilahi yang melimpah. Pada hakikatnya seluruh prinsip agama-agama samawi dapat disimpulkan dalam tauhid dan monoteisme. Keguncangan pada prinsip ini sebanding dengan hancurnya seluruh fondasi agama. Apabila masalah penyembahan sapi dipandang sebagai masalah sepele, maka boleh jadi akan menjadi tradisi bagi orang-orang di masa mendatang, khususnya Bani Israel, sesuai dengan bukti-bukti sejarah, adalah kaum yang sangat keras kepala dan suka mencari-cari dalih. Karena itu, mereka harus diberikan momok sehingga pada setiap kurun akan tetap dikenang dan tiada seorang pun yang berani berpikir untuk menyembah berhala. Dan boleh jadi frase, “Dzalikum khairun lakum ‘inda bari’ukum (Hal itu adalah lebih baik bagimu di sisi Tuhan Pencipta-mu) tengah menyinggung masalah ini.

 

Akhir kata, kiranya harus dicamkan bahwa seberat-beratnya hukuman di dunia tidak dapat dibandingkan dengan azab akhirat. Atas dasar itu, apabila seseorang mampu menahan pelbagai hukuman duniawi betapa pun beratnya, kemudian sedapat mungkin membebaskan dirinya dari pelbagai penderitaan pada hari Kiamat, maka ia sesungguhnya telah berniaga dengan keuntungan yang banyak. Kami meyakini bahwa hukuman-hukuman Ilahi di dunnia ini adalah kaffarah (tebusan) atas dosa-dosa bagi orang-orang yang benar-benar bertaubat dengan tulus.

Kami mengajak Anda untuk memperhatikan riwayat berikut ini:

Sekelompok pencuri dibawa ke hadapan Amirul Mukminin. Imam Ali As memotong tangan-tangan mereka dan kemudian para pencuri tersebut dibawa ke suatu tempat dan Imam Ali memerintahkan supaya orang-orang tersebut diberi obat sepantasnya. Kemudian menjamu mereka dengan makanan-makanan lezat seperti daging dan madu. Imam Ali As berkata kepada mereka, “Wahai para pendosa! Kini tangan-tangan Anda telah memasuki neraka. Namun apabila kalian bertaubat dan Allah Swt mengetahui apabila Anda benar-benar bertaubat maka Dia akan menyelamatkan tangan-tangan kalian dari api neraka dan membawa kalian ke surga. Kalau tidak demikian, maka tangan-tangan itu yang telah terpotong itu akan menyeret kalian ke neraka.”[6]

Sehubungan dengan perintah untuk membunuh Bani Israel terdapat salah satu kemungkinan berikut:

  1. Mereka bertaubat sehingga mereka akan memasuki surge abadi sehingga menahan segala penderitaan demi menembus jalan ke surga akan bernilai.
  2. Atau mereka tetap berkukuh dengan keyakinan batil mereka yang hukumannya adalah kematian dengan menyaksikan segala tanda-tanda dan mukjizat, hukuman kematian ini tetap tidak seberapa nilainya. [iQuest]

 

 


[1]. Mulla Fathullah Kasyani, Tafsir Manhaj al-Shâdiqin fi Ilzâm al-Mukhâlifin, jil. 1, hal. 192, Nasyr Kitabfurusyi Muhammad Hasan Ilmi, Teheran, 1336 S.

[2]. Tafsir Manhaj al-Shâdiqin fi Ilzâm al-Mukhâlifin, jil. 1, hal. 192.

[3].  Tafsir Manhaj al-Shâdiqin fi Ilzâm al-Mukhâlifin, jil. 1, hal. 192.

[4]. Terjemahan Persia Majma al-Bayân fi Tafsir al-Qur’ân, jil. 1, hal. 179, Riset: Ridha Sutudeh, Intisyarat-e Farahani, Teheran, 1360 S, Cetakan Pertama.

[5]. Nasir Makarim Syirazi, Tafsir Nemune, jil. 1, hal. 256, Nasyr Dar al-Kutub al-Islamiyah, Teheran, 1374 S, Cetakan Pertama.

[6]. Muhammad bin Ya’qub Kulaini, al-Kâfi, jil. 7, hal. 266, Hadis 31, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Teheran, 1365 S.

 

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    260013 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    245764 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    229644 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    214451 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    175765 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    171126 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    167543 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    157598 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    140452 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    133644 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...