Advanced Search
Hits
20623
Tanggal Dimuat: 2010/08/22
Ringkasan Pertanyaan
Apa yang dimaksud dengan Batul dan Ummu Abihâ yang menjadi gelar dan julukan Hadhrat Fatimah Sa?
Pertanyaan
Apa yang dimaksud dengan Batul dan Ummu Abihâ yang menjadi gelar dan julukan Hadhrat Fatimah Sa? Apakah Batul bermakna wanita yang tidak memiliki kebiasaan bulanan (haidh)? Bukankah hal ini berseberangan dengan kesempurnaan Hadhrat Fatimah? Sementara kesempurnaan hanya akan bernilai tatkala tidak menyalahi kebiasaan dan adat masyarakat.
Jawaban Global

Ummu Abihâ artinya ibu ayahnya. Batul adalah julukan yang dilekatkan kepada wanita yang sama sekali tidak memiliki kecondongan dan ketertarikan kepada kaum pria. Rasulullah Saw bersabda: Batul adalah wanita yang tidak mengalami haidh; karena haidh bukan merupakan sesuatu yang baik bagi putri-putri para nabi. Kendati secara natural dan umum setiap wanita pada usia-usia tertentu maka seharusnya mereka menyaksikan darah haidh keluar dari badan mereka. Namun Allah Swt menghendaki sebagian dari wanita terkecualikan dari kebiasaan ini. Tiadanya haidh bagi mereka merupakan sebuah keutamaan. Di samping Hadhrat Zahra, Hadhrat Maryam dan putri-putri para nabi juga tidak mengalami haidh. Karena itu, berseberangan dengan kebiasaan umum merupakan sebuah perkara yang tidak bertentangan dengan nilai dan keutamaan, sebagaimana tuturan Nabi Isa dalam buaian. Tuturan Nabi Isa tersebut bukan merupakan hal yang berseberangan dengan kebiasaan melainkan sebuah mukjizat besar yang merupakan bukti kenabian Nabi Isa dan dalil kesucian bundanya Hadhrat Maryam As.

Jawaban Detil

Salah satu gelar dan julukan Hadhrat Fatimah As adalah Ummu Abihâ dan yang lainnya adalah Batul. Ummu Abihâ yang bermakna ibu ayahnya merupakan gelar yang diberikan Rasulullah Saw sendiri kepada putrinya. Mengingat bahwa Rasulullah Saw telah kehilangan bundanya tatkala masih belia dan hampir seluruh hidupnya dilalui dengan susah hingga sebelum pernikahannya dengan Hadhrat Khadijah dan bahkan setelah itu beliau senantiasa mendapatkan gangguan dari kaum musyrikin.

Dalam masalah ini putri kinasihnya Fatimah, meski seorang belia ia bak laron-laron yang mengitari cahaya lilin ayahnya dan sekali-kali tidak terpisah darinya. Hadhrat Fatimah berupaya semaksimal mungkin untuk menghilangkan lara yang menimpa ayahandanya. Tatkala Rasulullah Saw menyaksikan sikap empatik yang diberikan putri kinasihnya air matanya bercucuran dan bertutur, “Ia adalah ibu (bagi) ayahnya.” Julukan ini dinukil oleh Syiah dan Sunni. Keduanya menjelaskan beberapa makna atas julukan ini. Di antara beberapa makna tersebut di samping yang telah dijelaskan, barangkali makna yang paling baik adalah bahwa “um” yang secara leksikal juga disebutkan bermakna maksud dan tujuan. Karena Fatimah merupakan buah pohon kenabian dan hasil usia Rasulullah Saw maka ia disebut sebagai Ummu Abihâ. Hadhrat Fatimalah yang menjadi maksud hakiki dan tujuan utama kehidupan Rasulullah Saw.

Batul derivatnya dari akar kata “ba-tal” yang bermakna terpotong dan memiliki ragam makna:

1.      Wanita yang sama sekali tidak memiliki kecondongan dan ketertarikan kepada pria disebut sebagai batul.[1]

2.     Wanita yang memiliki perbedaan asasi dengan wanita lainnya. Disebutkan pada sebagian literatur, “Maryam dan Fatimah disebut sebagai batul karena dari sisi keutamaan, agama dan keturunan berbeda dengan wanita pada masanya.”

3.     Seseorang yang telah mengenyahkan kecintaan terhadap materi dan dunia disebut sebagai batul. Hadhrat Maryam dan Fatimah disebut batul karena keduanya telah memutuskan ketertarikannya kepada dunia dan menghadapkannya kepada Allah Swt.[2]

4.     Wanita yang tidak mengalami haidh disebut sebagai batul. Dan alasan disematkannya julukan “batul” ini kepada Hadhrat Zahra As adalah karena beliau tidak pernah mengalami haidh.

 

Syaikh Shaduq meriwayatkan dari Baginda Ali As terkait dengan pertanyaan yang diajukan kepada Rasulullah Saw. Wahai Rasulullah Saw apakah batul itu? Aku mendengar dari Anda bahwa Maryam dan Fatimah keduanya adalah batul. Rasulullah Saw bersabda: Wanita yang tidak mengalami haidh disebut sebagai batul; karena haidh tidak baik bagi putri-putri para nabi.[3]

Demikian juga dalam sebuah riwayat dari Imam Baqir As yang menukil dari ayahnya yan bersabda: Fatimah As putri Rasulullah Saw disebut sebagai thâhirah. Karena beliau suci dari segala jenis noda dan sekali-kali tidak pernah mengalami haidh dan nifas.[4]

Namun kondisi seperti ini tidak terkhusus untuk Hadhrat Fatimah As, melainkan berdasarkan ayat 42 Ali Imran dan beberapa riwayat Syiah dan Sunni serta penafsiran yang berkaitan dengan sebab-sebab pewahyuan ayat disebutkan bahwa Hadhrat Maryam juga tidak pernah mengalami haidh.[5] Dan Allah Swt menjelaskan hal itu sebagai keutamaan bagi Hadhrat Maryam Sa.

Demikian juga berdasarkan sebuah riwayat disebutkan bahwa seluruh putri para nabi juga demikian adanya; Rasulullah Saw bersabda, “Haidh tidak baik untuk putri-putri para nabi.”[6]

Adapun terkait dengan tipologi yang berbeda dengan kebiasaan masyarakat secara umum tentu tidak memiliki bobot nilai. Harus dikatakan bahwa tidak selamanya demikian. Pada kebanyakan urusan, memiliki pelbagai tipologi yang berbeda dengan kebiasaan masyarakat secara umum dan bersifat adikodrati merupakan sebuah nilai yang sangat besar. Nabi Isa pada hari pertama kelahirannya yang masih berada dalam buaian dan berkata, Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (Qs. Maryam [19]:30-33) Meski tuturan Nabi Isa ini berseberangan dengan kebiasaan umum namun tuturan ini termasuk sebagai mukjizat besar dan keutamaan Nabi Isa As. Dengan tindakan ini, Nabi Isa menyelamatkan bundanya dari tudingan orang-orang keji.

Karena itu tiadanya haidh bagi sekelompok wanita yang memiliki potensi untuk mengalami haidh boleh jadi merupakan sebuah penyakit yang sangat berbahaya dan menyebabkan penderitaan bagi mereka. Namun dengan memperhatikan kekuasaan dan kebijaksanaan Tuhan dalam mencegah pelbagai penyakit yang bakalan menimpa mereka yang dikehendaki Tuhan secara khusus supaya mereka tidak mengalami haidh. Hal ini merupakan sebuah keutamaan; karena kaum wanita pada hari-hari tertentu lantaran uzur seperti haidh tidak dapat mengerjakan shalat atau menunaikan puasa, memasuki Masjidil Haram dan Masjid Nabawi serta berhenti di dalam masjid-masjid. Wanita haidh tidak dapat menyentuh lafaz dan kalimat al-Qur’an dan seterusnya. Namun Hadhrat Zahra tidak memiliki keterbatasan lantaran perhatian dan atensi Tuhan kepadanya. [IQuest]


[1]. Farahidi Khalil bin Ahmad, al-‘Ain, jil. 8, hal. 124, Intisyarat-e Hijrat, Qum, 1410 H, Cetakan Kedua.  

[2]. Muhammad Baqir Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jil. 43, hal. 15.

[3].  Shaduq, ‘Ilal al-Syarâ’i, jil. 1, hal. 181, Hadis 144.  

[4]. Muhammad Baqir Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jil. 43, hal. 19, Hadis 20.  

[5]. Sayid Mahmud Alusi, Ruh al-Ma'âni fi Tafsir al-Qur’ân al-‘Azhim, jil. 2, hal. 32, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Beirut, Cetakan Pertama, 1415 H. Abu Hayyan Muhammad bin Yusuf Andalusi, al-Bahr al-Muhiîth fî al-Tafsir, jil. 3, hal. 146, Dar al-Fikr, Beirut, 1420 H. Abu Abdillah Muhammad bin Umar Fakhrruddin Razi, Mafâtih al-Ghaib, jil. 8, hal. 218, Dar al-Ihya al-Turats al-‘Arabi, Beirut, 1420 H. Muhammad Baqir Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jil. 14, hal. 193. Muhammad Husain Thabathabai, Tafsir al-Mizan, terjemahan Persia, Sayid Muhammad Baqir Musawi Hamadani, jil. 3, hal. 295, Daftar Intisyarat-e Islami Jami’a Mudarrisin Hauzah Ilmiah Qum, Cetakan Kelima, 1374 S.  

[6]. Shaduq, ‘Ilal al-Syarâ’i, jil. 1, hal. 181, Hadis 144, Nasyir: Daudi.

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    252342 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    243386 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    227468 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    211573 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    173472 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    168814 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    159851 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    155436 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    136764 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    132222 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...